Close

Empat Teknik Berbohong Yang Cespleng

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
Dalam hidup, kadang-kadang kita mesti berbohong juga. Entah untuk melindungi seseorang. Menyembunyikan sesuatu. Atau untuk menutupi kebohongan-kebohongan lainnya yang sudah lebih dulu dilakukan. Di pengadilan, hampir bisa dipastikan terjadi kebohongan. Di ruang konfrensi pers jubir lembaga pemerintahan. Di kantor. Di rumah. Dimana-mana terjadi kebohongan. Pelakunya juga macam-macam. Pejabat pemerintah. Anggota DPR. Pengusaha. Pedagang. Atasan. Bawahan. Wartawan. Suami. Istri. Anak. Iiih…., semua kalangan sudah pada berbohong. Sayangnya, tak seorang pun dari mereka yang benar-benar pandai berbohong. Kebohongannya sangat mudah diketahui oleh publik. Maupun oleh orang-orang yang berusaha mereka bohongi. Ilmu bohong mereka, cetek. Padahal, ada loh ilmu berbohong yang cespleng. Anda ingin tahu?
Buya Hamka adalah ulama besar yang melahirkan tafsir Al-Azhar, buku-buku Islam, dan karya-karya sastra lainnya. Selain sangat bijaksana, beliau menguasai ilmu berbohong tingkat tinggi. Sayangnya saya tidak sempat berguru kepada beliau, karena beda zaman. Tapi masih ada cara lain untuk mengeruk ilmu berbohong Buya Hamka. Yaitu, belajar kepada puteranya sekaligus murid andalannya. Maka saya pun meminta kepada Pak Irfan Hamka; tolong ajari saya teknik berbohong Buya Hamka. Berkat beliau, saya jadi paham betul ilmu berbohong Prof. Dr. Buya Hamka. Karena saya prihatin pada kemampuan berbohong para pembohong yang ilmu bohongnya masih cetek itu, maka saya akan menjelaskannya dalam artikel ini. Sesama pembohong, kan sudah selayaknya saling menolong.  
Menurut Buya Hamka, untuk bisa berbohong dengan canggih itu ada 3 syarat. Pertama, Anda harus memiliki mental baja. Jika berbohong, Anda ragu-ragu nggak? Layar tivi kita juga suka menayangkan pesakitan yang gemetaran ketika menjawab pertanyaan hakim. Lah, cara bohong begitu mah nggak nendang. Pasti ketahuan. Harus punya mental baja dong kalau mau jago dalam berbohong. Muka kita. Suara kita. Gerak tubuh kita mesti mantap. Katakan kebohongan itu dengan lugas, tidak boleh ragu-ragu. Kalau kita cermati, tampaknya ada juga politisi dan anggota DPR kita yang sudah punya syarat pertama ini. Mental Anda sudah kuat seperti orang-orang itu? Kalau belum, belajar dulu dari mereka. Jangan melakukan kebohongan itu sekarang. Pasti ketahuan kok. Latihan mental dululah.   
Kedua, Anda harus ingat atas kebohongan sebelumnya. Mengingat kebohongan dimasa lalu itu sangat penting. Untuk menjaga konsistensi perkataan yang kita ucapkan. Bayangkan kalau hari ini kita berbohong. Terus besok kita lupa; sudah bohong apa ya kemarin? Lalu, lusa kita ditanya lagi soal kebohongan yang sama; enggak lucu kan kalau jawaban kita berbeda? Udah pasti ketahuan deh kalau kita bohong. Makanya, selalu ingat dong kebohongan yang sudah diucapkan. Jangan seperti para pesakitan disidang KPK itu. Masa sih kalau ditanya hakim jawabannya suka berubah-ubah. Itu menunjukkan bahwa mereka, tidak ingat dengan kebohongan sebelumnya. Anda susah ingat? Jangan langsung bohong dong. Pasti ketahuan kok. Perkuat dulu daya ingat Anda ya.
Ketiga, Anda mesti menyiapkan kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Bener banget kan? Anda yang sudah pernah berbohong paham betul soal ini. Sekali berbohong ya mesti tetap berbohong. Kalau nggak, ya bohong kita ketahuan dong.  Makanya, setelah berbohong sekali kita mesti menyiapkan kebohongan kedua. Setelah berbohong kedua kali itu, kita mesti menyiapkan kebohongan yang ketiga. Terus begitu saja. Karena para pembohong paham benar bahwa setiap kebohongan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya. Anda sanggup untuk memproduksi kebohongan terus-menerus? Kalau belum mampu, sebaiknya jangan berbohong dulu deh. Pasti ketahuan kok. Bikin dulu daftar kebohongan sebanyak-banyaknya.
Hanya tiga syarat itu yang diajarkan oleh Buya Hamka. Dijamin, kebohongan Anda canggih betul. Jika Anda tidak punya ketiga kemampuan itu, maka sebaiknya Anda tidak usah berbohong deh. Gampang ketahuan bohong Anda. Begitu Buya Hamka mengajarkan. Tapi, Anda tahu kan kalau saya ini punya otak encer. Saya menilai bahwa teknik bohong Buya Hamka itu kurang cocok dizaman sekarang. Jaman dulu mungkin oke banget. Tapi zaman sekarang? Kurang cespleng. Maka kepada Anda, saya berikan tambahan satu teknik lagi agar kebohongan kita menjadi sempurna. Sulit dibongkar. Dan benar-benar tidak bisa diotak-atik. Anda ingin tahu? Simak penjelasan ini.
Keempat – inilah ilmu pemungkasnya –;   ajaklah orang lain untuk bersekongkol dengan kebohongan Anda.  Rugi kalau Anda berbohong sendirian. Gak bakal ada yang dukung. Berjamaah sajalah. Sekarang kan bukan hanya sholat saja yang dilakukan secara berjamaah itu. Kemungkaran pun sudah berjamaah kita lakukan. Semakin banyak kroni dan kongsi serta koalisi yang bisa Anda bangun dalam kebohongan itu, semakin kokoh juga kebohongan yang Anda ciptakan. Kalau satu tertangkap, maka yang lainnya membela. Gimana aja deh caranya supaya kebohongan berjamaah itu jangan sampai merembet seperti kartu domino. Jika Anda belum bisa membangun jamaah yang solid untuk melakukan kebohongan, sebaiknya yaaaa berkoalisi dululah dengan para pembohong. Jangan langsung maen bohong saja. Itu konyol namanya.
Baiklah. Sekarang Anda sudah tahu teknik berbohong yang cespleng. Latih dulu ke-empat teknik diatas sebelum Anda berbohong ya. Jangan sampai Anda ditertawakan pemirsa tivi. Dicemooh tetangga. Dijitak atasan. Atau didamprat istri hanya gara-gara ilmu dan teknik bohong Anda cetek. Latihan dulu. Sampai Anda benar-benar menguasainya. Nah, sambil melatih penguasaan ke-4 teknik berbohong yang cespleng itu, silakan Anda baca Al-Qur’an. Banyak ilmu tentang kebohongan disana. Silakan disimak, dipelajari, dan diresapi.  
Salah satu ilmu tentang bohong tingkat tinggi misalnya ada dalam surah 36 (Yaa Siiin) ayat ke 65. Ayat ini cocok sekali untuk para pembohong dan orang-orang yang sedang belajar teknik berbohong yang cespleng. Disitu Anda akan menemukan firman Allah ini: “Pada hari ini kami tutup mulut mereka. Tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian; terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Saya dan Buya Hamka paham benar bagaimana cara berbohong yang cespleng. Cocok benar dengan zaman kita yang sudah dipenuhi oleh kebohongan ini. Dimana-mana orang pada berbohong. Dari pejabat Negara, hingga rakyat jelata. Kita pun sering tergoda untuk ikut berbohong. Namun saya dan Buya Hamka – seperti halnya juga Anda – diingatkan bahwa; tak seorang pun mampu berbohong dihadapan Allah Yang Maha Mengetahui. Masih berani ya berbohong meski setiap tindakan kita disaksikan Tuhan? Semoga Allah mengampuni kebohongan kita dimasa lalu. Dan semoga Allah. Menguatkan diri kita untuk menghindari kebohongan lainnya. Aamiin.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman