Close

HERBALOGI - FITOTERAPI


1.1    Pendahuluan
Penggunaan tumbuh – tumbuhan (herba) sebagai bahan pengobatan sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat. Menurut laporan organisasi kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization) sekitar 80 % penduduk dunia telah menggunakan bahan – bahan herba sebagai obat.1 Mereka umumnya memperkenalkan pengobatan ini secara turun – temurun dari generasi ke generasi.

Pada zaman dahulu masyarakat menggunakan herba sebagai obat melalui cara yang masih tradisional yaitu dengan mengkaitkan ciri – ciri fisik yang ada pada herba yang bersangkutan seperti warna, bentuk dan rasanya dengan penyakit tertentu. Misalnya, herba yang berwarna merah digunakan untuk obat penambah darah, herba yang berwarna kuning untuk obat penyakit kuning (hepatitis), herba yang bentuk daunnya seperti jantung digunakan untuk mengobati sakit jantung dan sebagainya. Penggolongan herba dengan cara seperti ini dikenal dengan kajian makroskopik.

Dewasa ini penggunaan herba sebagai obat telah dilakukan secara lebih modern. Berbagai penelitian ilmiah terhadap kandungan bahan aktif yang terdapat dalam herba telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Demikian juga pengolahan herba sebagai obatpun telah mengalami modernisasi, sehingga dengan mudah masyarakat dapat memperoleh obat – obatan herba dalam berbagai bentuk baik berupa kapsul, minuman (sirup), serbuk, minyak (oles) dan sebagainya.

Para pengamal pengobatan herba (herbalis) – pun kini tidak lagi menerapkan cara – cara tradisional dalam melakukan pengobatan. Mereka telah menggabungkan metode tradisional (yang diperoleh secara turun - temurun dan berdasarkan pengalaman di lapangan) dengan metode – metode klinis serta ilmiah.
Tampaknya pengobatan herba memiliki prospek dan potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Sebab, selain mudah didapat – karena bahan bakunya banyak terdapat di sekitar kita terutama untuk masyarakat Asia – pengobatan herba relatif lebih aman digunakan dibanding pengobatan medis atau pengobatan alopati (pengobatan dengan menggunakan bahan kimia). Tidak berlebihan jika Tn. Hj. Ismail bin Ahmad, penggagas Perubatan Jawi dari Malaysia mengatakan : “Seandainya mereka tahu khasiat herba – herba kita, niscaya mereka akan sanggup menukarnya sekalipun dengan kepingan – kepingan emas.”2

Masyarakat modern-pun tampaknya mulai sadar untuk menggunakan herba sebagai obat. Apalagi setelah mereka mengetahui kelemahan – kelemahan yang terdapat dalam pengobatan medis yang notabene berasal dari Barat, terutama efek samping (side effect) yang ditimbulkan. Belum lagi akibat buruk yang harus ditanggung akibat kesalahan dalam praktek pengobatan medis seperti kasus mal praktek yang akhir – akhir ini banyak terjadi di masyarakat.

Kini slogan back to nature (kembali ke alam) menjadi semarak di tengah - tengah masyarakat. Tidak saja di kalangan bawah tetapi juga kalangan menengah ke atas, para ilmuwan dan bahkan para ahli kedokteran medis sekalipun.
Permasalahannya sejauh mana pemahaman kita terhadap pengobatan herba, dan sejauh mana kita mengambil peluang emas tersebut? Sekiranya dunia yang membangun dengan “back to nature” tersebut tidak ditanggapai oleh para herbalis (pengamal pengobatan herba) dimana dia tinggal, maka nantinya segala hasil bumi yang diwariskan kepada hamba – hamba yang soleh akan diambil orang.

1.2    Pengertian Herba, Herbalogi dan Fitoterapi
Istilah herba biasanya dikaitkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayu atau tanaman yang bersifat perdu. Dalam dunia pengobatan, istilah herba memiliki makna yang lebih luas, yaitu segala jenis tumbuhan beserta bagian -  bagiannya yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang dapat digunakan sebagai obat (therapeutic).3 Misalnya Mengkudu Hutan (Morinda citrifolia) yang mengandung morindin  sebagai bahan anti kanker; Pegaga (Centela asiatica) yang mengandung asiaticoside berguna untuk masalah kulit dan meningkatkan kecerdasan atau IQ (Intellectual Quotient).
Herbalogi berasal dari dua kata yaitu ‘herba’ berarti tumbuhan dan ‘logi’ atau ‘logos’ yang berarti ilmu. Dengan demikian herbalogi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang terkait dengan tumbuh – tumbuhan. Dalam dunia pengobatan herbalogi dipahami sebagai sebuah konsep atau metode pengobatan menggunakan bahan – bahan yang berasal dari herba (tanaman obat).
Herbalogi sering disamakan dengan istilah fitoterapi. Kata ini berasal dari dua kata yaitu ‘fito’ yang berarti tumbuhan dan ‘terapi’ atau ‘therapy’ berarti pengobatan. Jadi fitoterapi berarti pengobatan dengan menggunakan bahan – bahan yang berasal dari tumbuhan.

1.3    Herbalis dan Herbalisme
Herbalis adalah orang yang mempunyai keahlian dan terlatih dalam melakukan pengobatan menggunakan bahan – bahan yang berasal dari herba.4 Biasanya seorang herbalis tidak hanya sekedar mampu merekomendasikan beberapa jenis herba kepada pasien sebagai obat terhadap penyakit yang dideritanya, tetapi ia juga senantiasa mengamalkan penggunaan (konsumsi) herba sebagai makanan sehari – hari.
Seorang herbalis memiliki sebuah falsafah yang dikenal dengan pahaman (falsafah) herbalisme yaitu : “Jadikan makananmu sebagai obat dan obat menjadi makanmu.”5
Falsafah tersebut telah dikenalkan oleh seorang pakar pengobatan Barat yang cukup terkenal yaitu Socrates, sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam sebuah bukunya Socrates mengatakan : “Let your food as medicine and medicine as yor food” (Jadikan makananmu sebagai obat dan obat sebagai makanmu). Dengan falsafah seperti di atas para herbalis menggunakan herba sebagai makanan sehari – hari untuk menjaga kesehatannya.