Close

( TELADAN ) HATI YANG TERIKAT KE MASJID

soloportal.blogspot.com~~~Ketauladanan dari seorang ulama tabiin yang ahli ibadah, imam Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam Al-Asadi. Ulama rabbani yang lahir dari keturunan sahabat yang mulia ini sangat tekun menjaga shalat berjamaah di masjid. Pada saat ia sakit keras yang menyebabkannya meninggal, ia masih sempat mendengar kumandang adzan Magrib dari masjid nabawi. Ia pun memerintahkan kepada keluarganya untuk memapahnya ke masjid.

Bawalah aku ke masjid!

Engkau sedang sakit keras. jawab keluarganya.

Bagaimana aku mendengar panggilan Allah lalu aku tidak mendatanginya? tukas Amir bin Abdullah.

Dengan terpaksa keluarganya memapahnya ke masjid. Ia memaksakan berdiri di tengah shaf bersama jama'ah lainnya. Ia masih mampu mengikuti bacaan dan gerakan imam sampai rakaat pertama. Tatkala imam dan seluruh mamum lainnya bangkit untuk rakaat kedua, Amir bin Abdullah tidak mampu bangkit lagi. Allah telah memanggil ruhnya untuk selamanya. Ia meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah di tengah shaf, di masjid nabawi yang diberkahi. Subhanallah! (Siyar Alam An-Nubala, 5/220)

Dan inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabiin senior, Rabi bin Khutsaim bi bin Aidz Abu Yazid Ats-Tsauri. Ia seorang ulama dan ahli ibadah di kota Kufah. Keshalihan, ketekunan ibadah dan kedalaman ilmunya diakui oleh ulama senior sahabat. Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata kepadanya, Wahai Abu Yazid, sekiranya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam melihatmu, pasti beliau akan mencintaimu. Tidaklah aku melihatmu, melainkan aku teringat akan orang-orang yang tekun beribadah.

Pada masa tuanya, Rabi bin Khutsaim mengalami lumpuh separoh badannya. Meski demikian ia tetap memaksakan diri untuk menghadiri shalat berjama'ah di masjid. Ia meminta keluarganya untuk memapah dirinya ke masjid.

Orang-orang berkata, Wahai Abu Yazid, shalatlah di rumah saja! Anda telah mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah.

Benar, aku memang mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah. Tapi aku masih bisa mendengar seruan muadzin hayya alash shalah..hayya 'alal falah (marilah menuju shalat marilah menuju keberuntungan). Jika kalian masih bisa mendatangi seruan hayya alash shalah..hayya alal falah, maka datangilah meski dengan merangkak! (Siyar Alam An-Nubala, 4/260)

Orang-orang shalih terdahulu telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla:

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang pasti termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah [9]: 18)

Mereka juga telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana menjadi orang-orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid, merindukan masjid dan shalat jamaah serta amal-amal kebaikan yang memakmurkan masjid.

Rasulullah SAW Bersabda : Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: dan orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid. (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)